tiffanychoi503

Just another WordPress.com site

Yeppopo 한국 POP 좋아요

Lee Joon MBLAQ mengatakan image “yeneungdol”-nya (seorang idola yang tampil di variety shows dan berhasil membuat acara menjadi menghibur) adalah sebuah beban.

Dalam KBS 2TVStory Show Do Dream,” yang ditayangkan pada Sabtu lalu, Lee Joon membagi keresahannya. Dia memikirkan tentang sebuah image yang agensi inginkan untuk ditunjukkannya di TV dan kepribadiannya yang sebenarnya, sangat berbeda.

Dia memilai dengan bertanya, “Apakah menjadi diri saya sendiri begitu buruk?” dan menambahkan kenapa dia memilih hal itu sebagai kekhawatirannya, “Saya rasa saya menderita kerugian karena saya terlalu jujur.

Lebih jauh lagi Lee Joon menjelaskan,

“Saya ingin menjadi diri saya sendiri, tapi agensi saya mengatakan untuk memikirkan tentang image saya. Bahkan fans mengatakan bahwa mereka ragu2 apakah mereka akan menjadi fans saya atau tidak, setelah melihat bagaimana diri saya di TV. Kapanpun saya mendengar orang2 mengatakannya, saya bertanya2 apakah sebegitu buruknya menjadi diri sendiri dan jujur.”

Lihat pos aslinya 16 kata lagi

Tinggalkan komentar »

Tugas Sistem Telekomunikasi

Plagiarisme atau sering disebut plagiat adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator. Plagiat Dalam buku Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah, Felicia Utorodewo dkk. menggolongkan hal-hal berikut sebagai tindakan plagiarism :

 Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri,

 Mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri

 Mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri

 Mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri,

 Menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal-usulnya

 Meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebutkan sumbernya, dan

 Meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.

Yang digolongkan sebagai plagiarisme:

 menggunakan tulisan orang lain secara mentah, tanpa memberikan tanda jelas (misalnya dengan menggunakan tanda kutip atau blok alinea yang berbeda) bahwa teks tersebut diambil persis dari tulisan lain

 mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi yang cukup tentang sumbernya.

Yang tidak tergolong plagiarisme:

 menggunakan informasi yang berupa fakta umum.

 menuliskan kembali (dengan mengubah kalimat atau parafrase) opini orang lain dengan memberikan sumber jelas.

 mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan menuliskan sumbernya.

Plagiarisme dalam literatur terjadi ketika seseorang mengaku atau memberi kesan bahwa ia adalah penulis asli suatu naskah yang ditulis orang lain, atau mengambil mentah-mentah dari tulisan atau karya orang lain atau karya sendiri (swaplagiarisme) secara keseluruhan atau sebagian, tanpa memberi sumber.

Akademis

Selain masalah plagiarisme biasa, swaplagiarisme juga sering terjadi di dunia akademis. Swaplagiarisme adalah penggunaan kembali sebagian atau seluruh karya penulis itu sendiri tanpa memberikan sumber aslinya. Menemukan swaplagiarisme sering kali sulit karena masalah-masalah hukum yang berkaitan dengan fair use. Beberapa organisasi profesional seperti Association for Computing Machinery memiliki kebijakan untuk menangani hal ini.

Sanksi Untuk Plagiator

Tak hanya di bidang akademis, plagiarisme atau menjiplak karya orang lain rupanya terjadi juga di berbagai bidang dan di berbagai negara. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat, seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas hingga dicopot gelarnya. 

Namun, di beberapa bidang, tindakan plagiarisme sulit diketahui. Sering kali pencurian ide dan penjiplakan karya berlindung di bawah tameng terinspirasi. Duplikasi menjadi samar jika berlandaskan alasan tersebut. Sanksi pun menjadi lemah, apalagi jika memang untuk karya yang tidak punya standar ukuran baku. Untuk akademis, misalnya, sanksisanksi tegas sudah dapat diterapkan.

Sanksi untuk plagiat di bidang pendidikan :

Pasal 12 ayat 3 Permendiknas No. 17/2010 menyebutkan bahwa sanksi bagi dosen, peneliti, dan tenaga kependidikan  yang terbukti melakukan plagiat bisa berupa teguran, peringatan tertulis, penundaan pemberian hak kepada mereka, penurunan pangkat dan jabatan akademik/fungsional, pencabutan hak untuk diusulkan sebagai guru besar/professor/ahli peneliti utama, pemberhentian dengan hormat atau tidak hormat dari status sebagai dosen/peneliti/tenaga kependidikan, atau pembatalan ijazah yang diperoleh dari perguruan tinggi yang bersangkutan. Namun, apabila pelaku plagiat itu adalah seorang guru besar/professor/ahli peneliti utama, maka mereka dijatuhi sanksi tambahan berupa pemberhentian oleh Menteri atau pejabat yang berwenang.

Tinggalkan komentar »